Sebagai Anak Nelayan
Bermula ketika Penulis hanyut ditengah laut saat asyik memancing
ikan malam hari dilepas pantai pulau seulako tahun 1997, tanpa sadar jangkar
lepas, angin kencang disertai gerimis namun ikan lagi makan umpan kail, bersamaan mesin mati (jim) dalam hitungan
detik terus dibawa arus kelaut lepas terombang-ambing diterjang badai.
Pada hari ke 14 ditolong oleh bot Idi di seputar Pulau Phuket
Thailand oleh Pawang Budiman. Sesampai di Kuala Idi sempat di peusijuk oleh
Panglima Laôt (Ketua Adat Laut) besrta nelayan setempat. Selain menyangkut adat juga bersamaan
ketika menolong beliau hanyut, rezeki ikan luar biasa diperoleh Pawang Budiman
serta ABK nya, belakangan diketahui nelayan Idi adalah tipe nelayan yang gigih
dan ulet sebagai pelaut.
Sebagai anak nelayan yang lahir dan besar di pesisir, hampir
setiap malam melaut terutama memancing ikan untuk memenuhi kebutuhan hidup
sehari-hari. Tidak ada pilihan lain bagi anak-anak nelayan pesisir pasiran
seusia penulis kala itu kecuali membantu orangtua pulang melaut ikut
membersihkan sampan dan membantu persiapan bekal melaut untuk sore berikutnya.
Kebannyakan di usia remaja/pemuda sudah harus turun melaut yang awalnya ikut
dengan orangtua dan pada saatnya sudah bisa dilepas mandiri.
Demikian pula berlaku bagi penulis, waktu bagi sangat berharga,
pagi-pagi sekali menjelang subuh sudah harus kembali ke darat karena ada tugas
lain membantu orangtua di warung kopi menghidupkan kompor dan membuka warung milik keluarga,
sambil menunggu mendidih air sebelum buka warung membantu orangtua perempuan
mengantar kue ke warung-warung lain yang ada seputar dan pingiran kota.
Penulis sangat mengagumi kegigihan dan ketulusan kedua orangtua
dalam menghidupi 8 orang anak kandungnya, memang harus diakui sepasang orangtua
pekerja keras atau orang sering menyebut banting tulang, tapi tulangnya jangan
dibanting patah pula. Orangtua laki-laki berstatus nelayan dan jualan di warung
kopi, saat itu masyarakat pesisir dan masyarakat umumnya sangat mengenal kopi
Pak Amat pasiran, dan orangtua perempuan sangat dikenal dengan ketan dan bubur
paginya karena ibu yang satu ini gemar membuat berbagai macam kue-kue untuk
dijajakan dipasar dan warung sendiri.
Aturan itu terus dilakoni nya, terutama adik-adik penulis baik
laki-laki maupun perempuan, karena sudah terbiasa dengan kerja keras, hal ini
belum lagi ada tambahan bonus kerja di kebun-kebun milik orangtua terutama
hari-hari libur dan saat penen tiba. Ada kegemaran lain orangtua yaitu hobi
menyisakan tabungan untuk membuka lahan-lahan baru menanam cengkeh, kelapa,
pinang dan coklat.
Dan tidak kalah penting setelah menyelesaikan kuliah tugas itu
terus berlanjut dipikulnya. Selesai itu harus bergegas menanti tugas selaku
abdi bakti alias honor di sekolah. Lumayan kalau ikan banyak ngantuk pun hilang
ketika lagi mengajar di kelas.
Sebagai
Pengurus Lembaga Ekonomi
Setiba kembali di Sabang datang keinginan membentuk kelompok
nelayan di teupin Calog dengan diberi nama Kelompok Nelayan Calog Alui Ie
Masein dalam pandangan dan petualangan penulis perlu menghimpun kesatuan guna
membantu nelayan ketika musibah dilaut. Inilah cikal bakal kekuatan dynasty
kecil ekonomi nelayan pesisir menjadi berkembang pesat.
Seiring waktu berlalu organisasi yang di nahkhodai oleh Cek Gu
nama lain beliau ini, sempat menjuarai lomba kelompok di Kota Sabang dan Provinsi,
maka mewakili Aceh di ajang nasional kemudian masuk 10 besar di Jakarta tahun
2000. Selanjutnya setiap tahun memperoleh program Pemberdayaan Ekonomi
Masyarakat Pesisir dari pusat. Dalam kesempatan itu juga kelompok berubah
menjadi Koperasi Nelayan Calog Alui Ie Masein dan berubah lagi badan hukumnya
menjadi Koperasi Nelayan/Lembaga Ekonomi Pesisir Mikro Mitra Mina (KOPLEPM3).
Puncak kejayaan dynasty
kecil yang di pawanggi oleh Pak Wan ini adalah mendapat program dari President
Badan Koperasi Dunia (PUM) bernama Mr.
Van Han Zon beralamat di Den Hag
Belanda tahun 2005-2006 dan program dari NGO lainnya. Dari mimpi nyata
itulah perjuangan yang tidak sia-sia dalam mewujudkan ekonomi mandiri
masyarakat nelayan khususnya dan masyarakat Sabang umumnya.
Dari ketekunan dan kerja keras nya di lembaga Koperasi telah membuahkan hasil dan asset berupa wujud bangunan fisik dan
sarana lainnya saat itu antara lain:
- 1 unit Kantor Koperasi (Jl. Malahayati);
- 1 unit Toko Serba Ada (Jl. Malahayati);
- 2 unit Losmen Penginapan (Jl. Malahayati)
- 1 unit Toko Pancing (Jl. Prof. A. Majid Ibrahim);
- 1 unit Toko Mesin Laut (Jl. Prof. A. Majid Ibrahim);
- 1 unit Toko Perabot (Jl. Perdagangan);
- 1 unit POM Solar Nelayan (SPDN) (Jl. Cut Nyak Dhien Pasiran);
- 1 unit Coldstorage (Jl. Cut Nyak Dhien Pasiran);
- 1 unit Bot Pukat Malam dan 1 unit Bot Pancing (Lhok Pasiran);
- 3 unit bot mesin tempel 40 Pk;
- 10 unit Perahu Mesin Robin/Honda 5 Pk.
Pada kesempatan lain penulis juga dengan gigih mampu melobi dan
meyakinkan stakeholder terkait untuk membantu masyarakat melalui usaha kecil
dan menengah (UKM) dan lembaga koperasi nelayan lain serta lembaga koperasi internasional dalam program pemulihan ekonomi nelayan pesisir Kota Sabang, baik
dalam bentuk modal usaha maupun sarana penangkapan, adapun lembaga ekonomi atau
koperasi dimaksud antara lain;
- Koperasi Nelayan Teupin Nyareung (Gampong Kuta Timu);
- Koperasi Nelayan Bina Samudera (Gampong Ie Meulee);
- Koperasi Makmur Nelayan (Gampong Balohan);
- Koperasi Nelayan Karya Bahari (Gampong Jaboi);
- Koperasi Nelayan Aulia (Côt Dama/Gampong Paya Seunara).
Keinginan penulis saat itu memasukkan program ekonomi pada
beberapa koperasi seperti tersebut
diatas adalah mempunyai harapan tidak lain agar lumbung-lumbung ekonomi usaha kecil masyarakat pelosok-pelosok Pulau Weh ini dapat tumbuh kuat untuk bisa masuk dalam system akses modal
jaringan ekonomi masyarakat pesisir seperti daerah lain di Indonesia.
Namun kesimpulan akhir ada pada masing-masing pengurus dan anggota
nya terutama koperasi yang memiliki sumber daya manusia (SDM) yang handal.
Paling tidak bagi mereka yang berhasil akan memperoleh program-program
berikutnya baik dana hibah maupun dana bergulir, begitu pula bagi yang tidak
berhasil, karena program tersebut dari surve penulis dibeberapa daerah
Indonesia dianggap berhasil terhadap lembaga ekonomi.
Pada waktu lain dalam perjalanan jagad raya ini juga penulis
berkesempatan melobi lembaga-lembaga internasional seperti NGO -NGO yang
bergerak dibidang pemberdayaan ekonomi guna membantu usaha kecil masyarakat
dalam bentuk dana segar kepada Nyak-nyak jualan sayur dipasar, kios -kios,
tukang pangkas, kedai buah, warung nasi, warung kopi, dan jenis usaha kecil lainnya.
Dalam hiruk pikuk dan hinggar binggar nya deburan ombak serta
nyanyian burung camar menghiasi heningnya senja tiba, sampailah biduk ketepian
pantai, karena kelelahan mengayuh dengan serta merta perlu rotasi regenerasi sudah tiba
saatnya dayung diserahkan kepada generasi berikutnya.
Perubahan-perubahan yang penulis inginkan
pada intinya didasarkan pada penataan platform yang mengarah kepada pencapaian usaha
masyarakat pesisisr dan nelayan yang sungguh-sungguh menjangkau dimensi dunia
usaha lebih luas dan terarah pada capaian akhir sejahtera.
Sebagai
Pengurus Lembaga Adat Panglima Laôt
Penulis yang sehari-hari berstatus pegawai kecil di suatu instansi
Pemerintah Kota Sabang, namun besar dan mulia bagi komunitas nelayan pesisir.
Apalagi saat ini beliau di percayakan sebagai
Sekretaris Umum Panglima Laôt Lhôk Pasiran Periode 2006-2011 dan 2011-2016. Selama di sekretariat Panglima Laôt Lhôk Pasiran bersama pengurus telah menata administrasi dan manajemen
yang berbasis pada kearifan lokal yang sangat bermartabat dalam kehidupan
nelayan pesisir.
Pada kesempatan lain, Penulis mencoba kumpulkan dokumen foto
pawang dan tokoh nelayan yang pernah menjabat sebagai Panglima Laôt, hampir lima
tahun mencari foto-foto baik yang masih hidup maupun yang sudah almarhum.
Alhamdulillah sekarang semua terkumpul dan terpajang di kantor Panglima Laôt dari Panglima Laôt pertama tahun
1950 sampai yang keduabelas tahun 2012 ada disana.
Waktu luang juga bersama pengurus dan ketua teupin membuat
pendataan nelayan setiap tahun. Dari sekian banyak jumlah nelayan yang tersebar
di enam teupin dalam lima gampong, sampai akhir tahun 2008 Panglima Laôt telah
mengeluarkan Kartu Tanda Nelayan (KTN) sebanyak lima ratus lembar.
Hampir lima tahun lebih bersama pengurus terus memperjuangkan
berdirinya bangunan fisik bale nelayan yang terdiri dari lantai dasar untuk
beberapa unit tempat usaha koperasi nelayan dan lantai atas untuk balai
pertemuan serta kantor. Pertimbangan bangunan fisik ini gunanya memperkuat
kembali tertib administrasi dan organisasi lembaga.
Pertimbangan lain adalah dengan berfungsinya beberapa pintu unit
usaha dapatlah menyisakan dana untuk membayar tagihan listrik/air, dana modal
awal untuk kahanduri Laôt, membantu dana musibah nelayan dilaut dan kebutuhan lainnya.
Awal kepengurusan baru tahun 2011 lembaga Panglima Laôt, Penulis juga
membuat tulisan ilmiah tentang sejarah ekonomi nelayan pesisir yang pernah
hilang dalam bentuk profil Kota Dinasty
Kecil Kerajaan Ekonomi Nelayan Yang Pernah Ada di Lhôk Pasiran Sabang. Catatan kecil ini diharapkan akan menjadi referensi bagi
generasi muda pesisir berikutnya.
Masih ada beberapa pekerjaan rumah (PR) bagi penulis yang belum
kesampaian dalam menata, mengayomi dan pemberdayaan ekonomi nelayan seperti apa
yang telah penulis lihat dan rasakan langsung selama melalang buana di jagat
nusantara ini seperti kekuatan ekonomi nelayan Pasuruan, Situbondo Jawa Timur
dan beberapa lainnya di Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara. Rasanya tidak
ada arti apa-apa bagi penulis sebelum terwujud
di Kota Sabang tercinta ini.
Demikian profil anak nelayan pesisir sabang di kemukakan
pada kita semua, juga berharap kepada generasi anak cucu kita untuk gemar
menulis artikel tentang apa saja untuk ilmu pengetahuan, sains dan sejarah oleh
orang-orang yang pernah berbuat baik untuk sesama dengan segala kelebihan dan
kekurangannya sebagai contoh tauladan dan dapat bermakna dalam kehidupan
sehari-hari ………………. Amin.
BIODATA PENULIS
Nama : Ridwan. MD
Lahir : Sabang, 10 Februari 1965
Pendidikan :
- Sekolah Dasar di SD Negeri 3 Sabang
- Sekolah Menengah Pertama di SMP
Negeri 1 Sabang
- Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1
Sabang
- Perguruan Tinggi FKIP-Unsyiah
Darussalam Banda Aceh
Pekerjaan :
- Guru Honor SMP 1, SMA 1, SMK 1 dan SPK tahun 1992-1997
- Pegawai tetap Dinas Pendidikan Kota
Sabang 1997-2006
- Pegawai Kanpora/Dispora Kota Sabang
2007-2010
- Pegawai Kesbangpolinmas Kota Sabang
2010-2012
- Pegawai
Disdukcapil Kota Sabang 2012 s/d Sekarang
Karya Tulis :
- Penguatan Lembaga Hukôm Adat Laôt
/Panglima Laôt
- Penguatan Lembaga Ekonomi Nelayan
Pesisir
- Hukom Adat Laôt Lhôk Pasiran Sabang
- Kota Dinasty Kecil Kerajaan Ekonomi
Nelayan Yang Pernah Ada
Di Lhôk Pasiran Sabang.
