Translate

Jumat, 25 Mei 2012

Profil Anak Nelayan Sabang


 Sebagai Anak Nelayan

   Bermula ketika Penulis hanyut ditengah laut saat asyik memancing ikan malam hari dilepas pantai pulau seulako tahun 1997, tanpa sadar jangkar lepas, angin kencang disertai gerimis namun ikan lagi makan umpan kail, bersamaan mesin mati (jim) dalam hitungan detik terus dibawa arus kelaut lepas terombang-ambing diterjang badai.

      Pada hari ke 14 ditolong oleh bot Idi di seputar Pulau Phuket Thailand oleh Pawang Budiman. Sesampai di Kuala Idi sempat di peusijuk oleh Panglima Laôt (Ketua Adat Laut) besrta nelayan setempat. Selain menyangkut adat juga bersamaan ketika menolong beliau hanyut, rezeki ikan luar biasa diperoleh Pawang Budiman serta ABK nya, belakangan diketahui nelayan Idi adalah tipe nelayan yang gigih dan ulet sebagai pelaut.

      Sebagai anak nelayan yang lahir dan besar di pesisir, hampir setiap malam melaut terutama memancing ikan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tidak ada pilihan lain bagi anak-anak nelayan pesisir pasiran seusia penulis kala itu kecuali membantu orangtua pulang melaut ikut membersihkan sampan dan membantu persiapan bekal melaut untuk sore berikutnya. Kebannyakan di usia remaja/pemuda sudah harus turun melaut yang awalnya ikut dengan orangtua dan pada saatnya sudah bisa dilepas mandiri.

      Demikian pula berlaku bagi penulis, waktu bagi sangat berharga, pagi-pagi sekali menjelang subuh sudah harus kembali ke darat karena ada tugas lain membantu orangtua di warung kopi menghidupkan kompor dan membuka warung milik keluarga, sambil menunggu mendidih air sebelum buka warung membantu orangtua perempuan mengantar kue ke warung-warung lain yang ada seputar dan pingiran kota.

      Penulis sangat mengagumi kegigihan dan ketulusan kedua orangtua dalam menghidupi 8 orang anak kandungnya, memang harus diakui sepasang orangtua pekerja keras atau orang sering menyebut banting tulang, tapi tulangnya jangan dibanting patah pula. Orangtua laki-laki berstatus nelayan dan jualan di warung kopi, saat itu masyarakat pesisir dan masyarakat umumnya sangat mengenal kopi Pak Amat pasiran, dan orangtua perempuan sangat dikenal dengan ketan dan bubur paginya karena ibu yang satu ini gemar membuat berbagai macam kue-kue untuk dijajakan dipasar dan warung sendiri.

      Aturan itu terus dilakoni nya, terutama adik-adik penulis baik laki-laki maupun perempuan, karena sudah terbiasa dengan kerja keras, hal ini belum lagi ada tambahan bonus kerja di kebun-kebun milik orangtua terutama hari-hari libur dan saat penen tiba. Ada kegemaran lain orangtua yaitu hobi menyisakan tabungan untuk membuka lahan-lahan baru menanam cengkeh, kelapa, pinang dan coklat.

      Dan tidak kalah penting setelah menyelesaikan kuliah tugas itu terus berlanjut dipikulnya. Selesai itu harus bergegas menanti tugas selaku abdi bakti alias honor di sekolah. Lumayan kalau ikan banyak ngantuk pun hilang ketika lagi mengajar di kelas.

 Sebagai Pengurus Lembaga Ekonomi   
    
      Setiba kembali di Sabang datang keinginan membentuk kelompok nelayan di teupin Calog dengan diberi nama Kelompok Nelayan Calog Alui Ie Masein dalam pandangan dan petualangan penulis perlu menghimpun kesatuan guna membantu nelayan ketika musibah dilaut. Inilah cikal bakal kekuatan dynasty kecil ekonomi nelayan pesisir menjadi berkembang pesat.

      Seiring waktu berlalu organisasi yang di nahkhodai oleh Cek Gu nama lain beliau ini, sempat menjuarai lomba kelompok di Kota Sabang dan Provinsi, maka mewakili Aceh di ajang nasional kemudian masuk 10 besar di Jakarta tahun 2000. Selanjutnya setiap tahun memperoleh program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir dari pusat. Dalam kesempatan itu juga kelompok berubah menjadi Koperasi Nelayan Calog Alui Ie Masein dan berubah lagi badan hukumnya menjadi Koperasi Nelayan/Lembaga Ekonomi Pesisir Mikro Mitra Mina (KOPLEPM3).

       Puncak kejayaan  dynasty kecil yang di pawanggi oleh Pak Wan ini adalah mendapat program dari President Badan Koperasi Dunia (PUM) bernama Mr. Van Han Zon beralamat di Den Hag Belanda tahun 2005-2006 dan program dari NGO lainnya. Dari mimpi nyata itulah perjuangan yang tidak sia-sia dalam mewujudkan ekonomi mandiri masyarakat nelayan khususnya dan masyarakat Sabang umumnya.

      Dari ketekunan dan kerja keras nya di lembaga Koperasi telah membuahkan hasil dan asset berupa wujud bangunan fisik dan sarana lainnya saat itu antara lain:
  •        1 unit Kantor Koperasi (Jl. Malahayati);
  •   1 unit Toko Serba Ada (Jl. Malahayati);
  •   2 unit Losmen Penginapan (Jl. Malahayati)
  •   1 unit Toko Pancing  (Jl. Prof. A. Majid Ibrahim);
  •   1 unit Toko Mesin Laut (Jl. Prof. A. Majid Ibrahim);
  •   1 unit Toko Perabot  (Jl. Perdagangan);
  •   1 unit POM Solar Nelayan (SPDN)  (Jl. Cut Nyak Dhien Pasiran);
  •   1 unit Coldstorage   (Jl. Cut Nyak Dhien Pasiran);
  •   1 unit Bot Pukat Malam dan 1 unit Bot Pancing (Lhok Pasiran);
  •   3 unit bot mesin tempel 40 Pk;
  • 10 unit Perahu Mesin Robin/Honda 5 Pk.
       Pada kesempatan lain penulis juga dengan gigih mampu melobi dan meyakinkan stakeholder terkait untuk membantu masyarakat melalui usaha kecil dan menengah (UKM) dan lembaga koperasi nelayan lain serta lembaga koperasi internasional dalam program pemulihan ekonomi nelayan pesisir Kota Sabang, baik dalam bentuk modal usaha maupun sarana penangkapan, adapun lembaga ekonomi atau koperasi dimaksud antara lain;
  1. Koperasi Nelayan Teupin Nyareung (Gampong Kuta Timu);
  2. Koperasi Nelayan Bina Samudera (Gampong Ie Meulee);
  3. Koperasi Makmur Nelayan (Gampong Balohan);
  4. Koperasi Nelayan Karya Bahari (Gampong Jaboi);
  5. Koperasi Nelayan Aulia (Côt Dama/Gampong Paya Seunara).
       Keinginan penulis saat itu memasukkan program ekonomi pada beberapa  koperasi seperti tersebut diatas adalah mempunyai harapan  tidak  lain  agar lumbung-lumbung  ekonomi  usaha  kecil masyarakat  pelosok-pelosok  Pulau Weh  ini  dapat  tumbuh  kuat untuk bisa masuk dalam system akses modal jaringan ekonomi masyarakat pesisir seperti daerah lain di Indonesia.

       Namun kesimpulan akhir ada pada masing-masing pengurus dan anggota nya terutama koperasi yang memiliki sumber daya manusia (SDM) yang handal. Paling tidak bagi mereka yang berhasil akan memperoleh program-program berikutnya baik dana hibah maupun dana bergulir, begitu pula bagi yang tidak berhasil, karena program tersebut dari surve penulis dibeberapa daerah Indonesia dianggap berhasil terhadap lembaga ekonomi.

     Pada waktu lain dalam perjalanan jagad raya ini juga penulis berkesempatan melobi lembaga-lembaga internasional seperti NGO -NGO yang bergerak dibidang pemberdayaan ekonomi guna membantu usaha kecil masyarakat dalam bentuk dana segar kepada Nyak-nyak jualan sayur dipasar, kios -kios, tukang pangkas, kedai buah, warung nasi, warung kopi, dan jenis usaha kecil lainnya.

      Dalam hiruk pikuk dan hinggar binggar nya deburan ombak serta nyanyian burung camar menghiasi heningnya senja tiba, sampailah biduk ketepian pantai, karena kelelahan mengayuh dengan serta merta perlu rotasi regenerasi sudah tiba saatnya dayung diserahkan kepada generasi berikutnya.

      Perubahan-perubahan yang penulis inginkan pada intinya didasarkan pada penataan platform yang mengarah kepada pencapaian usaha masyarakat pesisisr dan nelayan yang sungguh-sungguh menjangkau dimensi dunia usaha lebih luas dan terarah pada capaian akhir sejahtera.

Sebagai Pengurus Lembaga Adat Panglima Laôt
      
      Penulis yang sehari-hari berstatus pegawai kecil di suatu instansi Pemerintah Kota Sabang, namun besar dan mulia bagi komunitas nelayan pesisir. Apalagi saat ini beliau di percayakan sebagai  Sekretaris Umum Panglima Laôt Lhôk Pasiran Periode 2006-2011 dan 2011-2016.   Selama  di sekretariat  Panglima  Laôt Lhôk Pasiran bersama pengurus telah menata administrasi dan manajemen yang berbasis pada kearifan lokal yang sangat bermartabat dalam kehidupan nelayan pesisir.

      Pada kesempatan lain, Penulis mencoba kumpulkan dokumen foto pawang dan tokoh nelayan yang pernah menjabat sebagai Panglima Laôt, hampir lima tahun mencari foto-foto baik yang masih hidup maupun yang sudah almarhum. Alhamdulillah sekarang semua terkumpul dan terpajang di kantor Panglima Laôt dari Panglima Laôt pertama tahun 1950 sampai yang keduabelas tahun 2012 ada disana.

      Waktu luang juga bersama pengurus dan ketua teupin membuat pendataan nelayan setiap tahun. Dari sekian banyak jumlah nelayan yang tersebar di enam teupin dalam lima gampong, sampai akhir tahun 2008 Panglima Laôt telah mengeluarkan Kartu Tanda Nelayan (KTN) sebanyak lima ratus lembar.

     Hampir lima tahun lebih bersama pengurus terus memperjuangkan berdirinya bangunan fisik bale nelayan yang terdiri dari lantai dasar untuk beberapa unit tempat usaha koperasi nelayan dan lantai atas untuk balai pertemuan serta kantor. Pertimbangan bangunan fisik ini gunanya memperkuat kembali tertib administrasi dan organisasi lembaga.

      Pertimbangan lain adalah dengan berfungsinya beberapa pintu unit usaha dapatlah menyisakan dana untuk membayar tagihan listrik/air, dana modal awal untuk kahanduri Laôt, membantu dana musibah nelayan dilaut dan kebutuhan lainnya.

      Awal kepengurusan baru tahun 2011 lembaga Panglima Laôt, Penulis juga membuat tulisan ilmiah tentang sejarah ekonomi nelayan pesisir yang pernah hilang dalam bentuk profil Kota Dinasty Kecil Kerajaan Ekonomi Nelayan Yang Pernah Ada di Lhôk Pasiran Sabang. Catatan kecil ini diharapkan akan menjadi referensi bagi generasi muda pesisir berikutnya.

      Masih ada beberapa pekerjaan rumah (PR) bagi penulis yang belum kesampaian dalam menata, mengayomi dan pemberdayaan ekonomi nelayan seperti apa yang telah penulis lihat dan rasakan langsung selama melalang buana di jagat nusantara ini seperti kekuatan ekonomi nelayan Pasuruan, Situbondo Jawa Timur dan beberapa lainnya di Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara. Rasanya tidak ada arti apa-apa bagi penulis sebelum terwujud di Kota Sabang tercinta ini.

      Demikian profil anak nelayan  pesisir sabang di kemukakan pada kita semua, juga berharap kepada generasi anak cucu kita untuk gemar menulis artikel tentang apa saja untuk ilmu pengetahuan, sains dan sejarah oleh orang-orang yang pernah berbuat baik untuk sesama dengan segala kelebihan dan kekurangannya sebagai contoh tauladan dan dapat bermakna dalam kehidupan sehari-hari ………………. Amin.


    BIODATA PENULIS

                Nama        : Ridwan. MD
                Lahir         : Sabang, 10 Februari 1965
                Pendidikan :
                - Sekolah Dasar di SD Negeri 3 Sabang
               - Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 1 Sabang
               - Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1 Sabang
               - Perguruan Tinggi FKIP-Unsyiah Darussalam Banda  Aceh

                Pekerjaan :
                - Guru Honor SMP 1, SMA 1, SMK 1 dan SPK tahun 1992-1997
                - Pegawai tetap Dinas Pendidikan Kota Sabang 1997-2006
                - Pegawai Kanpora/Dispora Kota Sabang 2007-2010
                - Pegawai Kesbangpolinmas Kota Sabang 2010-2012
                - Pegawai Disdukcapil Kota Sabang 2012 s/d Sekarang

                Karya Tulis :
                - Penguatan Lembaga Hukôm Adat Laôt /Panglima Laôt
                - Penguatan Lembaga Ekonomi Nelayan Pesisir
                - Hukom Adat Laôt Lhôk Pasiran Sabang
                - Kota Dinasty Kecil Kerajaan Ekonomi Nelayan Yang Pernah Ada
       Di Lhôk Pasiran Sabang.

Tentang Kami



Selamat datang di blog ini.

Bisnis Dunia Kota Sabang adalah suatu blog yang menyajikan berbagai artikel seputar kejayaan dinasty kecil yang mendunia, mulai dari Kerajaan Perdagangan Dunia, Kerajaan Panglima Laot, Kerajaan Ekonomi Nelayan, Kerajaan Wisata Bahari dan Kerajaan Olahraga Wisata.

Tujuan dibuatnya blog ini adalah untuk membantu Anda mendapatkan informasi berkualitas, sehingga kita semua bisa menjaga kelangsungan nilai-nilai sumber daya alam ekonomi, budaya sejarah dan wisata yang ramah lingkungan lestari dengan sentuhan tangan kearifan lokal untuk senantiasa menjadi pribadi yang segar, sehat dan bahagia ketika Anda datang dan pulang dari  kunjung ke titik nol kilometer Indonesia ini dari Sabang sampai Meuroke.